13.9.04
DEMI MENGENANG DYONISIUS HANUNG WIDYATMOKO

Hanung mati bersama bekas istrinya: Nawang, dan bayi mereka yang lucu menggemaskan:Eka. Hanya aku yang tau dengan cara apa mereka kubunuh. Namun, sesungguhnya Hanung tidak pernah mati. Dia hidup di tempat istimewa dalam tubuhku. Hanung senantiasa ada di sana: hatiku. Hanung adalah juga pikiran-pikiranku.

Posted at 05:28 am by Lian_H_Bahar
Make a comment  

TENTANG TIGA PEMBUNUHAN BERENCANA

Ada rahasia antar-kami yang hanya aku dan dia bisa memahaminya. Kau akan tahu sesaat lagi. Perihal: 3 pembunuhan berencana.

Beberapa saat lagi aku akan mati. Dibunuh. Dan 2 orang lain akan mati pula: Nawang (bekas istriku) dan Eka (anakku).

Alasannya karena aku tak pantas ada. Aku hanya mengganggu. Padahal, bagi beberapa org, kehadiranku cukup mengasyikkan. Buktinya, teman2ku Monicers di Mnemonic-Gank Mnuliz: Bung Shadan agak keras berpikir tentang diriku; Rina berkeinginan mengunjungiku via Friendster dan menulis menanggapi tulisan-tulisanku mengenai Monicers yg lain, Diajeng Hesty. Dan yang terparah: XX, si gadis Depok itu. Berkali-kali kami ngobrol berbalas e-mail, setelah dia menanyakan apakah aku seorang sutradara film indie dari Ngayogjokarto. Bahkan, gadis yang baik hati ini, meng-inviteku di Friendster. Aaaggghhhh! ( Aku minta maaf pdmu, Ni. Aku minta maaf tak bisa meg-addmu.)

Maka lelaki ganjen itu memutuskan mencabut nyawaku. Ia bukanlah Tuhan. Tapi keinginan membunuhnya teramat kuat. Simbol segala ketidakberdayaannya?

Membunuhku, sama harusnya dengan membunuh Nawang. Dan tentu saja Eka, balita kami yang sedang lucu-lucunya. Tapi, tak bisa aku melawannya. Sebab kami semua hanya tokoh fiktif rekaannya. Keparat kau laki-laki ganjen! Laknat!!!

Apakah mata pisau berkilat tajam yang akan menusuk-nusuk dada kami, atau racun arsenik yang diam-diam dicampurkannya ke dalam minuman kami, atau duri-duri kaktus yang dihantamkannya bertubi-tubi ke wajah kami hingga kami kehabisan darah lalu perlahan-lahan mati mengenaskan--entah cara apa yang akan dipakainya. Tapi satu hal yang pasti, bahwa sebentar lagi kami: mati.

Selamat tinggal semuanya. Bahagia pernah menjadi bagian dari Kalian, orang-orang mengagumkan.

Sungguh.

Dyonisius Hanung Widyatmoko.

Posted at 06:10 am by Lian_H_Bahar
Make a comment  

AKU MINTA MAAF!

Maafkan aku.
Aku harus mbunuh mereka. Aku harus. (Aku sedih melihat ekspresi paras temenku Rina--yg kcantikannya konstan itu waktu kubeberkan semuanya. Dia tlihat begitu kecewa. Aku akan lebih sakit mnyaksikan wajah2 aneh temenku yg laen merasa ditipu.)
Nggak tega aku sebenernya. Tapi, mereka telah mati. Baru saja. Baru saja. (Kau masih bisa mrasakan kehangatan tubuh mereka sebelum darah di tubuh2 yg terbujur kaku di otakku itu, benar-benar menjadi dingin.) Tlah kubunuh mreka dgn cara yg tak tpikirkan oleh siapa pun.
Pernah Rina bilang padaku, 2 ato 3 hari yg lalu; ttg keinginan membunuh yg terpendam di bawah sadar. Mbunuh! Mbunuh! Dan itu sdikit memberiku inspirasiku.

XX yg baik hati, XX yg ceria, XX yg anprediktebel,
aku sungguh minta maaf kpdnya. Mungkin dia benci permintaan maafku ini. Tapi, perbincangan ttg diriku di .......@yahoo.com itu sungguh asyik. Aku suka kjujurannya.

Maka, kukutip tulisan Nona Hesty: "case closed!" Hanung tlah mati! Jg Nawang. Dan bayi mereka yg mengemaskan itu: Eka. Telah kubunuh mereka.

Aku minta maaf.

Salam,
Lian!

Posted at 06:21 am by Lian_H_Bahar
Make a comment  

E-MAIL U/ MENDIANG HANUNG.

XXX wrote:
halo, orang mati!

Halo Hanung,

Kabarnya kamu sudah mati ya? hihi nggak papa. Saya suka ngomong sama orang mati. Rasanya lebih nyaman dan bebas dan lega dan apapun lah... bagian dari kepengecutan mungkin, tapi siapa peduli. pokoknya saya suka membayangkan ngobrol sama orang mati--tentunya tidak di kuburan atau di tempat sepi atau di pekarangan yang entah gimana ceritanya selalu ada tepat di belakang kamar kos saya.

Saya pikir setiap orang mati meninggalkan kitab sendiri2. Sebuah kitab yang membuat dirinya ingin dikenang. Misalnya begini, saya suka kakek saya pas dia hidup dan lebih kagum lagi pas dia mati. kamu belum pernah saya ceritain ya sejarah2 akar2 saya? Saya pernah cerita tentang si Don Vito ayahku pada temanmu, yayaya--temanmu yang sedang ngambek itu sekarang [entah kenapa,aku membayangkan wajahnya semakin lucu dan lebar dan bibirnya yang tipis itu manyun2 sediri tanda dia ngambek]---temanmu itu, teman yang sedang ngambek itu, pun belum tahu tentang kakekku.
Ternyata dia orang pergerakan hebat pada jamannya. Orang Masyumi kenamaan tingkat lokal kampung. Ya kakekku itu. Sementara kakekku yang satunya [ingatkan, stiap anak punya dua kakek karena ayah ibu mereka sama2 punya ayah? Itu juga kalau ibu dari ayah ibu mereka tidak kawin lagi, jadi maksudku, minimal setiap anak punya dua kakek] tidak begitu saya sukai pas dia hidup. Tapi justru jadi kagum pas dia mati. Ayah Don Vitoku ini pun orang kenamaan. Dari Murba. Partai Murba di bawah Tan Malaka. Masih tingkat lokal kampung tentunya.
Karena perbedaan afiliasi, pada jamannya kedua kakekku tadi musuhan habis2an. Tapi memang benar kata temanmu, entah dia ingat atau tidak, rencana Tuhan memang selalu aneh, menikahlah anak2 keduanya. Yaitu: ayahku, yang kemudian sempat menjadi Don Vito tingkat lokal, dan ibuku yang masih aktif di perkumpulan hajinya hingga sekarang. [Makanya hingga sekarang aku suka berpikir, kontradiksi2lah yang selalu melahirkan aku: i'm mixed!]

Waktu besar, baru aku tahu kehebatan2 orang tadi. Kitab2nya kubukai dan kubacai. [Ada buku2 Madilog tua dan naskah2 Natsir yang terlarang di rumah lama. Akhirnya jatuh ke tangan loakan dan laku tak lebih dari tiga ribu perak!! aaduuhh...]

Oh ya, malah saya suka bikinin orang mati puisi. Mak di sebelah kosan saya yang mati itu buktinya, saya bikinin puisi, dan beberapa teman mengingat puisi itu [senangnya]. Jejak-jejak dan kitab-kitab selalu ditinggalkan dari orang mati ya tanpa disadari atau tidak oleh orang yang udah jadi cacing dalam tanah tadi.

Saya tengah mencari kitab apa yang baru saja kamu tinggalkan.

Anyway, saya lupa memperkenalkan diri. Saya XX. Semoga kamu masih ingat. Kita pernah tiga kali. TIGA KALI berkirim email denganmu. Seingatku, itu pun pendek2. Baru kali ini yang [akan menjadi email] terpanjang. Dan seingatku lagi, email terakhirmu--sayang sekalisudah kuhapus dari inboxku--yang mengajakku menikah itu---pun tak kubalas.

Saya mau bilang..."Kamu biasa aja kok, Nung" Serakan alpabet yang maknanya hanya berupa: teman baru. teman maya baru yang bisa jadi akan saya temui nanti. di jogja--kalau saya jadi ke sana.
Tapi tentu saja saya senang kalau kamu menganggap saya, dari TIGA kali berkirim email tadi, seorang teman yang sungguh mengasyikkan dengan kejujuran2nya.

Maka, saya sama sekali tak bersedih kehilangan seorang kamu. Pun ketika temanmu itu, temanmu yang sedang ngambek itu, bilang dia telah membunuhmu dengan skenario:TIGA PEMBUNUHAN TERENCANA!! Aiiyyyahhh.... hihihi
Saya hanya merasa dibohongi. Tapi sama sekali tidak bersedih. Sama sekali. Apalagi kehilangan. Prekk, siapa sih kamu?

Tapi anehnya saya malah kehilangan temanmu, yayaya temanmu yang sedang ngambek itu. [Hihihi ini dia enaknya ngomong sama orang mati, kita bisa ngegosipin yang masih hidup!;] Aku pikir bukan aku saja yang kehilangan. Pembunuhannya justru mengakibatkan ketidakseimbangan mikrokosmos dalam sebuah dimensi maya. Bukan karena dirimu, bukan karena kematianmu, tapi karena dia. Iya, dia! Aneh, kan?! Pembunuh tapi justru menjadi penting, istimewa. Semua orang sibuk memikirkan si pembunuh. Well, antagonis memang kadang2 mengambil ruang utama.

Entah dia nyaman atau tidak dengan ekspresi kehilangan orang2 itu. Entah dia menikmati atau tidak ketidakseimbangan yang ia ciptakan. Tapi pasti........... wajahnya sekarang tambah lebar! hihi... Aku jadi ingin.... aah sudahlah. [Aku jadi ingat,jangan2 password emailmu ini pun kau berikan pada orang lain]
Aku berharap hari2nya baik sekarang. Aku jadi membacai Sang Priyayi lagi, kudapatkan susah payah dengan rayu-merayu pemilik rental yang ganteng dekat kosan.
Sebenarnya agak penasaran... Dia sedang jatuh cinta dengan perempuan mana lagi ya sekarang?

Kau bisakah jadi hantu yang mematai2nya? Ah, tak perlulah. Kamu mati sajalah dalam kedamaian, nung. Tapi kalau sempat, kalau sempat saja, kalau kau sempat mampir di dekatnya [dan jangan sekali-kali menampakkan diri di hadapannya], kalau sempat kau membisikkan sesuatu di hatinya, kalau dia sedang sendirian saja sebaiknya, menjelang tidur....

bilang: psst...ada yang rindu. Pelan2 aja.


makasih ya orang mati,
XXX

Posted at 06:35 am by Lian_H_Bahar
Comment (1)  

BALASAN E-MAIL ORANG MATI.

Date: Fri, 13 Aug 2004 13:10:17 -0700 (PDT)
From: "dyonisius hanung" Add to Address Book
Subject: Re: halo, orang mati!
To: "XX

Hei Nissa,

kau betul, aku sudah mati. Tapi, aku, tentulah akan slalu mngenangmu walo cuma 3 kali kita berbalas imeil. Knapa imeil terakhir ndak kau balas? Aku sungguh ingin mnikahimu. Tapi aku tlah paham, kau ndak akan pernah ingin kupersunting. Sebab, lagi2, kau betul: siapa sih aku? Aaggghhhh....

Di alamku ini, aku dapat mlihatmu. Bisa mnikmati prasaan di hatimu lewat bahasa tubuhmu: senyum, geleng2 kpala, dan gerakan jari yg kecepatannya bagai psawat jet mlesat di angkasa ktika kau mngetikkan imeil yg tengah kubalas ini. Sngaja ndak kubaca saat itu jg apa yg ingin kau kabarkan. (Bagaimanapun, menyenangkan membaca lewat alamat imeil sendiri.) Jari2mu itu sesekali tempo mlingkarkan rambutmu yg mulai panjang di kedua telingamu. (Kau tahu, aku dan temenku yg lebar wajahnya itu, pernah btengkar - dan dia akhirnya mengakui kau lebih cantik kalo rambutmu panjang. Ia sempet ragu2 dengan ktetapan hatinya: perempuan berambut pendeklah yg dipujanya! Ah, seperti sebuah ppatah Rusia yg kuingat dari buku "Kang Sejo Melihat Tuhan"-Mohammad Sobary, bahwa manusia bukan gunung. Manusia brubah. Dan u/ 1 hal, dia pun mnjadi brubah. Karena kau, Nissa.

Berbicara dengan orang hidup, tentunya mengasyikkan bgku. Sama artinya dengan orang hidup seperti dirimu, merasa nyaman, dan bebas, dan lega dan apapun lah.... bcakap2 dengan orang mati seperti aku.

Cerita kakekmu yg mninggalkan jejak indah u/ kau kenang, mbuatku smakin mrasa ndak ada apa2nya. Dan aku pun ndak berharap u/ dikenang oleh siapa pun. Bahkan oleh Nawang (bekas istriku) dan Eka (anakku). Tapi aku yakin, temenku yg tampangnya lucu itu ndak pernah mnganggapku mati. Aku akan tetap ada di hatinya, di satu tempat entah di mana, dalam bawah sadarnya.(Walo dia yg membunuhku.)

Rencana Tuhan aneh - itu akan selalu diingetnya. Tuhanlah yg mnyebabkn dia begitu; jalan hidupnya dipenuhi kjutan2 asing yg mnganggu hatinya. Karenanya, laki2 gendut (tp manis, kan?) itu, menyerahkan smuanya pada apa yg dinamakannya ktidakpastian.

Wah, senengnya jd orang pertama yg lebih dulu kau beritahu ttg sejarah kakekmu. Minimal aku menang selangkah daripada dia dalam mngenalmu. Aku bs rasakan ksedihnmu khilangan buku2 tua, mencoba mngerti kesimpulanmu akan kontradiksi2 yg mnyebabkan kau ada - mewujud, dan mmahami cerita ktidaksukaan akhirnya menjd pemujaan (2 kubu berlawanan, cepet ato lambat, akan saling bertemu pada 1 titik ttentu.)

Ndak usahlah, Nissa, kau bersedih u/ matiku. Syukuri sajalah. Kau, kita, bisa memanfaatkan situasi ini: kehidupan dan kematian berbincang2. Kita gosipin saja dia. Tp kali ini posisiku jelas bpihak padamu. Aku di sisimu, Gadis Manis. Pada dia, ndak akan kucritakan ttg apa pun yg kita obrolkan spt yg kulakukan kemarin2 itu. Stuju? (Ayolah! Toh aku mulai sungguh mnyukai dirimu. Ndak cuma ikut2an temenku itu).

Nissa, dia ndak sedang ngambek sekarang. Smua ini telah direncanakannya penuh kmatangan. Dia bilang, dia muak dengan sgala yg ada di deketnya. Dasar! Ndak pernah dia bisa bersyukur atas apa yg dia punya! Hidup; tanpa gjolak kecil dalam jangka waktu relatif lama u/ ukurannya, ndak ubahnya dengan kekosongan ingin slalu mbahagiakan hatinya. Aku tahu, dari awal dia ndak pernah bermaksud mnganggu keseimbangan mikrokosmos dunia sekelilingnya. Semua itu hanyalah untuk mnyenangkan hatinya sendiri saja. Paling ndak untuk mbantu proses kreatifnya mnulis saja. Kalau kmudian temen2nya lantas jd klihatan dungu karena sok ikut2an tlibat, dia nikmati saja smuanya. Tertawa2lah dia! Ah, orang sakit!

Tapi, Nissa, knapa kau lantas kehilangan dia? Dan, skali lg: dia ndak sedang ngambek! Malah sedang bsuka-cita. Jg ndak spenuhnya nyaman atas efek yg muncul akibat perbuatannya.

Eh, Gadis Manis, kau baca ulang Kayam? Jgn Nissa! Dulu, aku ndak pernah ingin mbaca karya2 pengarang kesukaannya itu. Tapi dia mmaksa dengan cerdik. Manis. (Digabungkannya klembutan dan kekasaran merayu!) Hingga akhirnya aku tergoda juga. Maka Nissa, tutup buku itu usai kau mbaca pesenku ini. Ato kalo ternyata kau telah mnyelesaikan mbacanya, jgn biarkan tsimpen lama2, lengket di kepalamu ttg apa itu keindahan2 hidup yg ingin dibagi Kayam. Kupikir, smua itu biasa2 saja. Hanya hal2 kecil. Aku bingung, kok bgitu tergila2nya dia pada Kayam. Apa karena dia bahagia akan hal2 kecil? Karena dia gemar mnikmati detil? Ah, sering kali pikirannya kutemui amat dangkal mnanggapi ssuatu! Ndak ngerti aku! Dia pun bs jd sangat tertutup saat2 ttentu.
Tapi u/ alasanmu mbaca lagi - aku mnemukannya! Eureka!!! Pasti karena sebenernya kau ingin mngenal lebih jauh lelaki ngguanteng pemilik rental itu, bukan?

Nissa, dia pernah ungkapkan padaku kalo, cinta - buatnya adalah ktika hatinya mmutuskan pada siapa dia ingin bersama2 lg kelak di tempat yg ndak ada itu kesedihan, ppisahan, dan kmatian. Serupa kenangan, smua abadi. Jd, kukira: dia ndak sedang jatuh cinta. Dia amat susah jatuh cinta pada siapa pun sesungguhnya, meski dia jenis orang yg ndak bs mnyembunyikan ktertarikannya pada perempuan. Namun yg pasti, Nissa, jatuh hati dia padamu! Ingin slalu deket2 dirimu! Entah akan sampai mana ini. Tapi percayalah, ini ndak j.u.s.t. a. w.h.i.l.e. seperti tulisanmu padanya. Aku cukup akrab mngenalnya mnyangkut bbrapa hal.

Tentu aku mati dalam damai, Nissa ( Aneh, untuk perbuatannya yg kejam padaku dan darah dagingku, aku ndak ingin dia dihukum!)

Ndak mau pula aku jd makhluk gaib yg berkeliaran deket2 dia; mmata2i. Tapi, ktika aku bniat mnyampaikan pesenmu perihal krinduan (kulihat lelaki gendut insomnia itu tlah mmejamkan matanya); bersijingkat - kudekati dia. Saat mulutku ndak lagi berjarak dengan telinganya - tepat 0,000099 detik ktika aku ingin mbisikkan lembut "Seseorang tengah mrindukanmu, Kampret...." - mndadak matanya terbelalak! Suaranya keras mnghardikku:
"Nggak perlu kau bisikkan, Nung! Aku mrasakannya! Nah, sekarang - beritahu padanya sebetulnya aku pengen smua orang tahu kalo aku jatuh hati padanya. Aku jatuh hati pada Nissa Cita!!! Ah, sayang kau dan aku bukan Monicers lagi! Akan kusebarkan via milis perkara rasa bergelora dalam dadaku ini!"

Dan aku, Nissa - aku terkejut 1/2 mati! Diancuk!!! Aku bagaikan mngalami sakratul maut kali ke-dua!

Sampe jumpa di alamku yg indah ini, orang hidup (tp kau mesti slalu mngirimiku kabar, Gadis Manis yg lagi dapet!)

Dyonisius Hanung Widyatmoko.

Posted at 06:38 am by Lian_H_Bahar
Make a comment  

E-MAIL2 DARI MILIS MNEMONIC u/ HANUNG:

From: "rina to"
Date: Sun, 8 Aug 2004 22:08:27 -0700 (PDT)
Subject: [MnemoniC] surat untuk HANUNG


Salam Hangat,

Aku tulis surat ini di sela-sela makan siangku. Dari mp3 masih terlantun lagu No Surprises-nya Radio head. Pas banget dengan suasana hati.

Bagaimana kabarmu, Nung? Juga Diajeng Nawang. Juga si Kecil (yang aku tidak tahu namanya. Kuharap dia semanis ibunya).

Aku mengerti kalau kau bilang: "aku nggak tahu kabar Diajeng Nawang." Tapi ada baiknya kau telepon dia. Sampaikan salam dariku (sebagai pembuka basa-basi). Perpisahan tidak berarti memutuskan tali silaturahmi, kan?

Kau benar, cantik atau uang bukan segalanya pada cinta dan perkawinan, pada akhirnya. (Mulanya itu akan jadi pertimbangan pertama).

Aku pikir, kamu sudah berdamai dengan hatimu. Tidak lagi resah dengan kata perpisahan. Mencari diajeng-diajeng baru. Diajeng Sahesty or Diajeng Olive (tapi Diajeng Olive? Aku nggak kuat dengan rajukannya. "Oh, Popeye!") Umurmu kan masih muda, belum 35 tahun.

Aku jadi ingat sebuah kalimat (yang sudah aku pelintir jadi bahasa yang mudah aku mengerti): "Lebih baik menjadi duda atau janda pada usia 35 tahun daripada belum menikah. Setidaknya tahu dan merasai maknanya sebuah pernikahan."

Menikah?! Memang wajib? Kata Pak ustadz sih, katanya; menikah itu setengah dari iman. Tapi aku nggak mau berdebat soal itu, toh bukan soal itu yang ingin aku sampaikan dalam surat ini.

Jadi beruntunglah dirimu sudh merasai menikah di usia yang belum genap 35 tahun. Tetap semangat. Godot itu bukan untuk ditunggu, tapi dikejar, ditangkap dan diikat.


(Aku lupa kali, apa yang mau aku tulis. Harusnya ada satu alinea lagi...lupa).

Btw....semalamat menikmati masa menduda. Menjadi duda dan gembira (hik...hik...hik..)


salam,

rina



From: "rina to"
Date: Sun, 8 Aug 2004 23:06:49 -0700 (PDT)
Subject: [MnemoniC] lanjutan surat untuk HANUNG

Salam,
ada yang tertinggal.....

Kapan aku bisa ketemu Diajeng Nawang? Kalau bisa sebelum bulan depan. Biasalah, untuk aku ajak di arisan.

salam,
rina



From: "hanifah hani"
Date: Wed, 11 Aug 2004 23:09:06 -0700 (PDT)


hanung menulis tentang kematiannya, dan deskripsi kematiannya terasa over dosis, semua unsur rasa kecewa berhasil dia tumpahkan, hingga meyakinkan orang2 bahwa dia adalah korban. alhasil membuat orang lain terlihat seperti terdakwa, dan protes banyak orang bermunculan.

apakah kalian telah mati kata?

jika tulisan sudah berunsur ego, manusia takkan pernah habis untuk mencerca.
dan hanung sudah menjadi narsistik sejati,
suatu hal menyedihkan yang selalu kutemui.

hani



--------------------------------------------------------------------------------

Posted at 06:55 am by Lian_H_Bahar
Make a comment  

BALASAN u/ E-MAIL dari RINA

Re: [MnemoniC] surat untuk HANUNG

Salam Hangat jg, Mbak Rina...

Wah, pngemar Rediohet, to Mak Rina ini. Ndak nyangka saya....

Saya sehat2, Mbak! Nawang? Wah, saya ndak ngerti dia di mana sekarang. Sungguh. Jg Eka, si Kecil kami. Dia ikut Bundanya. Saya sedang dalam proses perceraian. Mnunggu kabar lanjutan dari Gereja.
Tapi sepertinya, saya bakal kalah kalah di pngadilan--kelak--perihal siapa yg ngurus Eka. Hampir bisa dipastikan hakim lebih mpercayai Ibunya ktimbang saya yg luntang-lantung ini.

Yayaya... anakku itu smanis Ibunya. Dan yayayaya lg... ppisahan ndak slalu berarti mmutuskan silaturrahmi. Tp, yg terjd adalah, dia ndak pengin lg saya deket2 dia. Sedih saya. Tp saya bs apa? Smua salah saya. Saya ndak pandai bsyukur. Saya slalu selingkuh dulu, sampe akhirnya Diajengku itu mmilih bcerai- walo dalam agama kami (Katholik), hal itu ndak dibenarkan.

Yayayayaya... saya mngerti. Saya blom bs spenuhnya berdamai dgn hati pd saat2 tertentu. Tp saya slalu blajar u/ itu. Ah, saya ndak mcari Diajeng2 baru kok, Mbak. Biarlah Tuhan mngirimkannya dr langit u/ ku. Ini hukuman u/ saya, Mbak Rina. Godot--akan saya tunggu slamanya. Aku yakin Godotku ini beda dgn Godot yg terkenal itu. Dia akan dateng.... swatu saat! Hanya u/ saya.

Yayayayaya... akan saya nikmati ms mduda ini. Senang bs bcakap2 sama Mbak Rina. Saya jd pengin ktemu. ( Tp gmn-- saya kan udah mati, Mbak?!!!)

Hanung.

Posted at 07:14 am by Lian_H_Bahar
Make a comment  

E-MAIL PEMBENARAN Lian

ralianbahar@yahoo.com wrote:
Subject: [MnemoniC] AKU SALAH, DAN AKU MEMILIH MUNDUR

MONICERS, TEMEN2KU YG BAEK....

AKU NGAKU BERSALAH. AKU NGGAK INGIN SIAPA PUN DISALAHKAN (WALO JUJUR, AKU MEMANFAATKAN MOMEN ITU: ktika Tn. Moderator ingin mngembalikan milis ke "jalan yg lurus" - TP SUNGGUH, AKU MEMANG INGIN MEMBUNUH HANUNG KARENA AKU PIKIR AKU NORAK!!!)

AKU YG SALAH SMUANYA. TAPI AKU NGGAK INGIN MINTA MAAF UNTUK APA PUN. AKU SERAHKAN SMUANYA PADA KALIAN, MONICERS.

MEMBACA TULISAN SEMUA TEMEN [TRUTAMA HANI (ntah siapa kau Hani, tapi aku setuju dengan sindiranmu: Hanung memang NARSIS!), AKU MENYESAL MENCIPTAKAN HANUNG], SERU AJA KALO TERNYATA, TOKOH FIKTIF YG KUCIPTAKAN CUKUP MENGGANGGU.

KARENA ITU, AKU MEMILIH MUNDUR DARI MNEMONIC. KARENA AKU SALAH SEORANG MODERATOR MILIS, JD USAI MNULISKAN INI, AKAN KUHAPUS NAMAKU DARI MEMBER, DAN JG - AKU MUNDUR DARI SMUA KEGIATAN MNEMONIC.

TERIMA KASIH UNTUK ILMU2 YG TELAH BERHASIL KUCURI DARI KALIAN. KALIAN SUNGGUH ORANG2 YG MENGAGUMKAN!

Salam,
Lian.


--------------------------------------------------------------------------------

Posted at 07:21 am by Lian_H_Bahar
Make a comment  





DEMI MENGENANG DYONISIUS HANUNG WIDYATMOKO

Blog ini u/ mengenang Hanung, diriku sendiri--yg mati kubunuh dengan skenario TIGA PEMBUNUHAN BERENCANA
.
   

<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed